HUKUM MENGENAKAN PAKAIAN MU’ASHFAR (PAKAIAN WARNA KUNING)

Disalin dari kitab Shahih Fikih Sunnah Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim, dikomentari oleh Syaikh Nashiruddin Al- Albani. Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin Pustaka Azzam 3/25.

Diriwayatkan oleh Amr bin Abdullah, dia berkata “Nabi pernah melihatku mengenakan dua pakaian mu’ashfar” Lalu beliau shallallahu alayhi wasalam bersabda “ini adalah pakaian orang-orang kafir, maka janganlah kamu mengenakannya“(HR Muslim)

Dalam riwayat lain beliau shallallahu alayhi wasalam bertanya, “Apakah ibumu yang menyuruhmu mengenakan pakaian ini ?” Aku berkata “Aku akan mencucinya” maka Nabi shallallahu alayhi wasalam bersabda “Tidak, melainkan kau harus membakarnya

Yang dimaksud dengan sabda Nabi shallallahu alayhi wasalam “Apakah ibumu yang menyuruhmu mengenakan pakaian ini ?“adalah, pakaian semacam ini adalah pakaian dan perhiasan bagi wanita. Sedangkan perintah Nabi shallallahu alayhi wasalam untuk membakarnya merupakan sangsi dan peringatan keras beliau terhadap perbuatan semacam ini.

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, dia berkata “Sesungguhnya Rasulullah telah melarang mengenakan sutra, pakaian mu’ashfar, memakai cincin emas dan membaca Al qur’an ketika ruku’ “(HR Muslim, Tirmidzi dan An Nasa’i)

Para ulama berbeda pendapat seputar mengenakan pakaian yang diberi warna kuning. Jumhur ulama berpendapat boleh, diantara mereka adalah Imam Asy-Syafi’i, Imam Abu Hanifah dan Imam Malik.

Sebagian ulama mengatakan makruh. Mereka mendasarkan pendapat ini pada hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar, dia berkata “Aku pernah melihat Nabi shallallahu alayhi wasalam mewarnai dengan warna kuning” (HR Bukhari dan Muslim)

Al-Khatabi berkata; “Larangan disini hanya mewarnai pakaian setelah ditenun. Larangan ini tidak mencakup pakian yang telah dicuci warnanya lalu ditenun

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa larangan ini hanya sebatas pada orang yang sedang berihram haji atau umroh. Mereka berpendapat demikian agar hal ini senada dengan hadits riwayat Ibnu Umar seputar larangan mengenakannya bagi orang yang berihram. (Lihat syarh Muslim 14/54).

Saya katakan (Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim) : Pendapat yang paling argumentatif adalah tidak boleh mengenakan pakaian yang diberi warna kuning berdasarkan ketetapan hadits-hadits yang telah dikemukakan diatas. Terutama pakaian warna kuning yang mencolok, sehingga menyerupai busana wanita. Oleh karen itu Al Baihaqi berkata, “Sekiranya Hadits ini sampai ke Imam Asy-Syafi’i, niscaya ia akan mengemukakan pendapat yang sesuai dengan ketetapan tersebut…

Dalam Hadits Ibnu Umar tidak disebutkan apa yang diwarnai oleh Nabi shallallahu alayhi wasalam, rambut atau pakaian.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: