MENYIKAPI IMAM MADZHAB YANG DI IKUTI

Ketahuilah bahwa sikap kami (Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim) terhadap empat imam madzhab dan imam-imam yang lainnya –rahimahumullah– seperti sikap seluruh kaum muslimin yang munshif (adil), yaitu loyal kepada mereka, mencintai, menghormati, menghargai, memberikan pujian atas dasar ilmu dan ketakwaan yang ada pada mereka. Kami ber-iitiba’ kepada mereka dalam kerangka mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah diatas pendapat mereka.

Mempelajari pendapat-pendapat mereka hanya untuk membantu diri menuju kebenaran dan meninggalkan segala sesuatu yang menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah. Adapun masalah-masalah yang tidak ada nashnya, maka sikap yang benar adalah memperhatikan ijtihad-ijtihad mereka, terkadang mengikuti ijtihad mereka lebih benar daripada ijtihad kita sendiri, sebeb mereka lebih banyak memiliki ilmu dan lebih bertakwa.

Walaupun demikian, wajib bagi kita untuk melihat dan bersikap hati-hati dalam memilih pendapat yang paling dekat dengan apa yang dimaksud oleh Allah, paling selamat dan paling jauh dari syubhat.1

Untuk mendapatkan sikap yang saya (Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim) maksud, maka dibawah ini saya menyebutkan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Perlu kita mengetahui bahwa para imam bukanlah orang yang ma’shum, bahkan semua imam madzhab memiliki permasalahan-permasalahan yang harus dikritisi. Dalam perkataan para ulama misalnya kita sering menjumpai ungkapan seperti, “Dia dalam permasalahan ini telah menyelisihi sunnah“.

Saya (Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim) contohkan, Abu Hanifah -rahimahumullah-, dia adalah imam yang palin banyak mendapat sorotan, sebab dari empat imam, beliaulah yang paling banyak menggunakan ra’yu. Imam Abu Hanifah tidak menggunakan hadits yang berkenaan dengan mencari keadilan dengan seorang saksi dan sumpah dalam masalah harta, beliau juga tidak memakai hadits yang berkenaan dengan pengasingan untuk lelaki yang bujangan berzina.

Kemudian, Imam Malik –rahimahumullah– dalam masalah pengingkarannya terhadap puasa enam hari dibulan syawal. Beliau juga menganggap baik puasa hari Jum’at meskipun tidak didahului dengan puasa pada hari-hari sebelumnya atau bukan hari yang menjadi kebiasaan baginya berpuasa, sebab tidak ada Sunnah Nabi  yang sampai kepadanya dalam masalah ini. Imam Malik juga tidak mengamalkan hadits yang berkenaan dengan khiyarul majlis, padahal hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dan banyak lagi masalah-masalah lain yang bisa dijadikan contoh.

Imam Syafi’I –rahimahumullah– berpendapat bahwa menyentuh wanita dengan tidak memakai penghalang membatalkan wudhu, padahal ada Sunnah Nabi yang menyelisihi pendapatnya. Meskipun beliau sendiri juga memiliki jawaban terhadap hadits yang dimaksud.

Imam Ahmad –rahimahumullah– dalam masalah puasa hari syak sebagai bentuk kehati-hatian terhadap masuknya bulan ramadhan, padahal nash hadits menyatakan puasa dihari syak adalah terlarang, dan masih banyak contoh lainnya.

Kami tidak bermaksud mengecilkan martabat para ulama dengan adanya masalah-masalah yang harus dikritisi ini, sebab mereka –rahimahumullah– telah berusaha sekuat tenaga untuk mempelajari segala yang datang dari Allah dan Rasul-Nya dan ber-ijtihad dengan kemampuan yang ada pada diri mereka. Yang benar akan mendapatkan pahala ijtihadnya saja, adapun kesalahan akan dimaafkan. Dengan tetap menjunjung kehormatan dan kedudukan mereka, kami bermaksud menjelaskan bahwa Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, harus dikedepankan diatas semua pendapat, sebab para imam adalah manusia yang tidak ma’shum dari kesalahan.2

  1. Agar dapat dipahami bahwa para imam yang secara umum telah diterima dikalangan umat ini, tidak satupun dari mereka yang dengan sengaja menyelisihi Rasulullah  sedikit atau banyak. Mereka telah bersepakat bulat dan yakin bahwa mengikuti Rasulullah  adalah wajib, pendapat orang bisa dipakai bisa juga tidak bisa dipakai, kecuali perkataan Rasulullah . Tetapi disaat kita jumpai pendapat mereka yang bertentangan dengan hadits shahih maka ada kewajiban untuk meninggalkan pendapat imam mereka.3

  2. Ada tiga alasan mengapa pendapat mereka bertentangan dengan sunnah Nabi 4 :

Pertama: Mereka tidak meyakini bahwa Nabi  telah mengatakannya. Hal ini terjadi karena beberapa sebab:

    1. Hadits yang dimaksud tidak sampai kepadanya sama sekali.

Jika kondisinya saperti ini, maka ia tidak terkena taklif, seandainya tidak mengetahui keharusan-keharusan yang dikandung oleh hadits tersebut. Dalam keadaan demikian, apabila dia sudah berpendapat sesuai dengan apa yang dituntut oleh dzahir sebuah ayat, hadits, qiyas atau istishhab, maka hasilnya bisa saja menyepakati atau menyelisihi Sunnah. Kebanyakan sebab inilah yang membuat sebagian perkataan salaf yang kita jumpai bertentangan dengan sebagian hadits Rasulullah , karena menguasai seluruh hadits-hadits Rasulullah  adalah sesuatu yang belump pernah terjadi pada seorangpun dari umat ini.

    1. Haditsnya sampai, tetapi menurutnya hadits yang dimaksud tidak tsabit.

    2. Berdasarkan ijtihadnya, dia meyakini bahwa derajat hadits itu adalah dha’if. Meskipun ijtihadnya ini bersebrangan engan ijtihad lain, sedangkan dia tidak mengetahui keberadaan riwayat jalur lain. Terlepas apakah dia yang benar atau orang lain yang benar.

    3. Dalam menerima berita seorang yang adil dan dhabith, dia mengemukakan beberapa syarat lain yang berbeda dengan imam-imam yang lain. Seperti syarat faqih apabila menyelisihi qiyas ushul dan sebagainya.

    4. Hadits dimaksud sebenarnya sampai kepadanya dan tsabit, akan tetapi ia lupa.

 

Kedua: Dia tidak meyakini bahwa lafazh yang ada dimaksudkan untuk sebuah masalah yang dibahas olehnya. Masalah yang kedua ini bisa muncul dengan beberapa sebab, diantaranya:

  1. Tidak mengetahui dalalah hadits yang dimaksud, terkadang karena lafazh hadits yang ada menurutnya memiliki lafazh yang gharib dan ulama berbeda dalam menafsirkannya, atau makna lafazh itu dalam bahasa dan urf dia, tidak seperti makna yang dimaksudkan dalam bahasa Nabi  atau karean lafazhnya adalah lafazh yang musytarak mujmal (memiliki beberapa makna dan global), atau masih bimbang antara yang hakiki dan majaz, sehingga dia harus membawa makna lafazh itu kepada makna yang paling dekat menurutnya, padahal sebenarnya yang dimaksudkan dalam lafazh itu adalah makna yang lain. Contohnya sekelompok sahabat pada mulanya menafsirkan benang putih dan benang hitam(fajar) sebagai tali putih dan hitamdan lain sebagainya. Terkadang juga yang menjadi faktor adalah karena dalalah nash-nya tidak jelas baginya, sebab dalalah perkataan memang sangat luas, dan kemampuan untuk memahami perkataan tersebut berbeda antara satu orang dengan yang lainnya.

  2. Meyakini bahwa dalam hadits yang dimaksudkan tidak ditemukan dalalah-nya sama sekali. Perbedaan antara sebab yang ini dengan sebab yang sebelumnya, bahwa pada sebab yang pertama sisi dalalah hadits-nya tidak diketahui, sedangkan disini sesungguhnya ia mengetahui sebuah dalalah dalam hadits, tetapi ia yakini bahwa dalalah tersebut bukanlah dalalah yang benar.

  3. Meyakini bahwa dalalah tersebut terbantahkan oleh sesuatu yang lain, yang memposisikannya sebagai dalalah hadits yang tidak dimaksudkan, contohnya pertentangan antara yang am (umum) dan yang khas (khusus), yang mutlaq dan yang muqayyad, perintah mutlaq dengan dalil yang tidak mewajibkan, atau pertentangan-pertentangan lainnya -yang sebenarnya tidak dikatakan sebagai sebuah pertentangan-.

 

Ketiga: Meyakini bahwa hadits yang dimaksudkan terbantahkan, kemudian memposisikannya sebagai hadits yang masukh, atau ditakwilkan olehnya meskipun tidak diyakini oleh orang lain, atau karena tidak ditemukan mu’aridh (yang bertentangan) yang rajih.

 

  1. Bila apa yang dipaparkan diatas sudah dapat kita pahami dengan baik, maka ketika dijumpai sebuah pendapat yang didasari oleh hadits shahih dari Rasulullah  dan disepakati oleh sekelompok ulama, tidak boleh lagi kita berpindah dari pendapat itu kependapat ulama lain meskipun lebih alaim, sebab masih dimungkinkan masih mempunyai sisi lemah dalam ber-hujjah. Adanya kemungkinan terjadinya kesalahan dalama pendapat para ulama lebih besar daripada kemungkinan terjadinya pada dalil-dalil syar’i. Sedangkan dalil-dalil syar’i adalah hujjah Allah untuk seluruh hamba-Nya, tidak seperti pendapat seorang ulama.

Disamping itu, sebuah dalil syar’i tidak mungkin keliru bila tidak ada pertentangannya dengan dalil yang lain. Jelasnya, bahwa seorang ulama bisa jadi udzur karena meninggalkan sebuah hadits, dan kita juga mendapat udzur karena meninggalkan pendapat ulama yang bertentangan dengan hadits shahih.

“Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-Baqarah:134)

 

“…kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya)…., “(QS Ani-Nisa:59)

 

Dengan mengetahui sebab-sebab diatas, kita juga bisa memahami ketika dijumpai sebuah hadits yang shahih berisi tentang hukum halal, haram atau hukum tertentu -kemudian ditinggalkan oleh seorang ulama- maka kita tidak boleh mengatakan bahwa ulama yang meninggalkannya akan diadzab sebab telah menghalalkan yang haram atau mngharamkan yang halal atau beranggap berhukum kepada selain Allah, apabila dimungkinkan meninggalkannya karena sebab-sebab yang kami sebutkan diatas.

Demikian juga ketika ada hadits yang memuat tentang ancaman diatas suatu perbuatan atau laknat, murka, atau adzab dan sebagainya, tidak boleh kita katakan bahwa ulama itu dengan sebab membolehkan ini atau melakukannya berarti termasuk orang yang akan mendapatkan ancaman dalam hadits tersebut.

Sikap seperti itu -dalam mendudukkan ulama- sejauh yang kami ketahui tidak ada khilaf dikalangan umat kecuali sebagian pengikut Mu’tazilah di Baghdad. Jadi barangsiapa yang tidak sampai kepadanya sebuah hadits tentang pengharaman sesuatu misalnya, kemudia dia membolehkan sesuatu itu karena bersandar pada dalil syar’i, maka orang ini lebih berhak untuk mendapatkan udzur dan karenanya dia mendapatkan pahala ijtihad.

 

Allah subhanahu wata’ala:

” Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu,

Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan Hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. dan kamilah yang melakukannya.”(QS Al-Anbiya:78-79)

 

Allah menjelaskan kekhususan Sulaiman karena kelebihannya dalam memahami suatu masalah, tetapi keduanya dipuji sebagai orang yang dikarunai hikmah dan ilmu.

Dalam riwayat shahih dari Amr bin Ash, bahwasannya Nabi  bersabda,

“Apabila seorang hakim berijtihad kemudian benar, maka dia mendapatkan dua pahala, dan apabila salah dalam ber-ijtihad kemudian salah, maka dia mendapatkan satu pahala“(HR Bukhari dan Muslim).

 

Jelas bahwa seorang mujtahid dengan kesalahannya tetap mendapatkan pahala karena usahanya dalam berijtihad, sedangkan kesalahannya terampuni, sebab untuk mendapatkan pemahaman yang benar pada seluruh hukum -syariat- adalah sesuatu yang tidak mungkin atau sangat sulit dilakukan.

Allah  berfirman:

“…Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan…(QS Al Ahzab:22)

“….Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu….” (QS Al- Baqarah:185)

 

  1. Para Imam telah sepakat melarang taqlid kepada mereka. Mereka melarang taqlid dan fanatisme buta yang banyak dilakukan oleh orang-orang yang mengklaim sebagai pengikut setia mereka. Orang-orang ini berpegang teguh kepada madzhab-madzhab itu seakan-akan apa yang diucapkan oleh imamnya adalah wahyu yang turun dari langit.

Allah  berfirman:

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).”(QS Al A’raf:3)

Dibawah ini kami berikan bebrapa contoh yang berkaitan dengan penjelasan diatas: bersambung buka link ini

1 Adhwa’ Al Bayan (7/555)

2 Lihat Adhwa’ Al Bayan (7/556-576)

3 Raf ‘Al Malam ‘An Aimmah Al ‘A’lam dari Majmu Al Fatwa (20/232)

4 Raf ‘Al Malam ‘An Aimmah Al ‘A’lam dari Majmu Al Fatwa (20/231-290)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: