Apakah Seorang Muslim Harus Mengikuti Madzhab Tertentu ?

Apakah Seorang Muslim Harus Mengikuti Madzhab Tertentu

Tidak diragukan lagi bahwa Rasulullah  tidak mengharuskan umat ini untuk berpegang pada salah satu madzhab tertentu. Rasulullah  hanya mewajibkan mereka untuk ber-ittiba’ kepada beliau, sebab kebenaran hanya terbatas pada apa yang disabdakannya saja. Seseorang yang adil akan berkesimpulan bahwa taqlid kepada Imam tertentu tanpa melihat dalilnya adalah kebodohan yang besar dan musibah yang mengerikan. Bahkan sikap seperti itu adalah sikap yang didasari oleh hawa nafsu dan fanatisme buta belaka.

Seluruh Imam mujtahid telah sepakat untuk melarang taqlid. Maka barangsiapa mengikuti dalil berarti dia telah mengikuti imam madzhabnya, mengikuti imam yang lainnya dan Kitab Allah beserta Sunnah Rasul-Nya. Seseorang yang dianggap keluar dari madzhabnya adalah orang yang bersikukuh untuk bertaqlid walaupun menyelisihi dalil, sebab imamnya sendiri ketika mendapatkan hadits yang shahih akan mengikutinya dan meninggalkan pendapatnya sendiri. Orang yang taqlid dengan gaya seperti itu telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, dia hanya mengikuti hawa nafsunya sendiri.1

Maka pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkan nya sesat berdasarkan ilmu-Nya… “(QS Al Jaatsyiah[45]:23)

“…Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian…“(QS An-Nisaa:59).

Ibnu Hazm –rahimahumullah– berata2, “Taqlid adalah haram, tidak halal bagi seseorang berpegang pada pendapat orang lain tanpa dasar ilmu, selain perkataan Rasulullah, karena Allah berfirman, ‘Ikutilah apa yng diturunkan kepadamu dari Rabb-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajarn (dari padanya)’“(QS Al Araaf:3).

Dan apabila dikatakan kepada mereka ‘(Tidak) tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami…’“(QS Al Baqarah:170).

Kemudian Allah  berfirman memuji orang-orang yang tidak taqlid, “Dan orang-orang yang menjauhi taghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira, sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku“(QS Az-Zumar:17).

Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diataranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi oleh Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal“(QS Az Zumar:18).

“…Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian…“(QS An-Nisaa:59).

Allah  melarang mengembalikan perselisihan kepada siapapun, sebab sandaran yang benar hanyalah Al-Qur’an dan Sunnah. Telah terjadi ijma’ dikalangan sahabat, tabi’in dan tabiut’tabi’in dari awal hingga akhir, karenanya tidak diperbolehkan untuk mengkhususkan oranglain, baik dikalangan mereka sendiri atau orang yang hidup sebelum mereka, dan menjadikannya sebagai panutan, dengan konsekuensi mengikuti seluruh perkataanya.

Jadi, perlu diketahui oelh orang-orang yang mengambil seluruh perkataan imamnya, baik Abu Hanifah, Maliki, Syafi’i atau Ahmad, dan tidak mau menginggalkan pendapat imamnya menuju pendapat yang lain, kemudian dia juga tidak menyandarkan dirinya kepada Al-Qur’an dan Sunnah, maka dia dinyatakan telah menyelisishi ijma’ seluruh umat dari awal hingga akhir. Dan, dia juga dinyatakan tidak mengikuti langkah salaf atatu siapapun yang hidup dalam tiga kurun waktu keemasan. Dia telah meniti jalan yang bukan ditempuh oleh kaum mukminin.

Para ahli fiqih telah melarang utnuk bertaqlid kepada yang lain, dan bagi mereka yang melakukannya dianggap telah menyelisihi apa yang diriwayatkan oleh orang yang berhak mereka ikuti.

Al Ma’shumi berkata3, fenomena aneh dapat kita lihat dari orang-orang yang bertaqlid dan fanatik kepada madzhab-madzhab bid’ah yang telah menyebar, diantara mereka ada yang mengikuti pendapat yang didnisbatkan kepada madzhabnya, meskipun hal tersebut jauh dari kebenaran dalilnya. Dia meyakini bahwa pendapat yang ada seakan sebuah sabda dari Nabi  yang terutus. Tentu saja sikap seperti ini jauh dari kebenaran, kami telah menyaksikan dan mengalami sendiri, merekae berkeyakinan bahw a seseorang yang mempunyai kemampuan seperti imamnya tidak mungkin salah, mereka juga meyakinibahwa apa yang dikatakan oleh imamnya pasti benar. Sehingga hal itu membuatnya mengambil keputusan untuk meninggalkan taqlid kepadanya meskipun pendapat yang ada berseberangan dengan dalil.

Kondisi ini persis seperti gambaran sebuah riwayat yang dibawakan oleh At-Tirmidzi dan lainnya, bahwa Adi bin Hatim pernah berkata, Aku mendengar Rasulullah membaca ayat,”Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain mereka” (QS At-Taubah:31), maka aku berkata, “Wahai Rasulullah, mereka tidak menyembah rahib-rahib mereka“, maka Rasulullah  bersabda, “Ketika rahib itu menghalalkan sesuatu, mereka mengikutinya, dan apabila mengaramkan sesuatu mereka juga mengikutinya dan itulah bentuk peribadatan mereka4. (HR Tirmidzi dan Abihaqi)

Imam Syafi’i –rahimahullah– berkata, “Barangsiapa bertaqlid kepada orang tertentu dalam mengharamkan dan menghalalkan sesuatu, pada secara nyata ada hadits yang menyelisihinya, dan hal itu tidak menghalanginya untuk mengamalkan sunnah, berarti dia telah mengambil orang yang diikutinya tiu sebagai rabb selain Allah , mengahalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengaharamkan apa yang dihalalkan Allah“. (Hadiyyah as-Sulthan h.69)

Al Mardawi menukil perkataan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Baranh siapa yang mewajibkan untuk bertaqlid kepada seorang imam karena keberadaan imam itu sendiri, maka orang itu harus diminta untuk bertaubat, jika menolaknya maka ia harus dibunuh, sebab sikap tersebut adalah bentuk syirik kepoada Allah dalam masalah tasyri’, sementara maslah tasry’ adalah bagian dari hak preogratif Allah semata“. (Al Inshaf, Al Mardawi 11/170)

Al Kamal bin Al Hammam Al Hanafi menyebutkan, “mengambil dan meyakini madzhab tertentu bukanlah keharusan menurut pendapat yang shahih, sebab hal tersebut tidak diharuskan. Hal-hal yang bersifat wajib adalah apa yang diwajibkan oelh Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mewajibkan kepada seseorangpun untuk bermadzhab kepada seorang imam, bertaqlid kepadanya semata dalam masalah perintah atau larangan agama. Kurun masa keemasan (tiga abad terbaik) telah berlalu, dan selama itu tidak ada pendapat yang mengharuskan bermadzhab dengan madzhab tertentu“. (Hadiyyah AS-Sulthan h.65)

Al Qarafi –rahimahullah– berkata, “Para sahabat sepakat bahwa seorang yang meminta fatwa kepada Abu bakar dan Umar dan mengikuti keduanya, boleh untuk meminta fatwa kepada Abu Hurairah, Muadz bin Jabal dan selain mereka kemudian mengamalkannya“. (Adhwa’ Al Bayan 7/488)

Tidak dikemukakan dikalangan sahabat ada seseorang yang mengambil orang lain untuk dinobatkan sebagai tempat bertaqlid, diikuti seluruh perkataannya dan tidak ditinggalkan sedikitpun. Sebaiknya perkataan orang lain ditinggalkan seluruhnya, tidak ada yang diambil sama sekali. Dan secara otomatis kita juga tahu bahwa hal itu tidak ditemukan dimasa tabi’in dan tabi’ut tabi’in. jika anda mendapatkannya, maka buktikanlah satu orang saja (jika ada) orang-orang yang hidup pad amasa keemasan yang menempuh jalan (taqlid) yang kotor itu. Bid’ah tersebut terjadi pada masa ke-empat dan ini dicela oleh lisan Rasulullah . (Adhwa’ Al Bayan 7/488)

 

Dua Perkara Yang Membuat Pelaku Taqlid Tertipu

Ada dua permasalahan yang disalahpahami oleh orang-orang yang bertaqlid, mereka mengiranya sebagai sebuah kebenaran, padahal perkiraan mereka itu hanyalah prasangka yang amsuk dalam keumuman firman Allah Ta’ Ala, “…Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran…” (QS Yunus:36)

Rasulllah  bersabda,

Jauhilah prasangka, sebab prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta

 

Masalah Pertama:

Mereka mengira bahwa imam yang menjadi panutan mereka sudah mengetahui seluruh ma’na Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah  tidak ada yang tertinggal sama sekali.

Atas dasar inilah ketika didapatkan ayat atau hadits yang bertentangan dengan pendapat imamnya, mereka mersa yakin bahwa imamnya telah mengetahui ma’na ayat Al Quran atau nash hadits, tetapi ia sengaja meninggalkannya karena ada yang lebih kuat dan lebih rajih. Kemudian mereka merasa harus mengedepankan sesuatu yang mereka pikir sebagai sebagai yang lebih rajih tadi. Dan mereka telah meninggalkan wahyu yang jelas ada dihadapan mereka.

Ini adalah prasangka yang benar-benar keliru.

Sedangkan para imam seluruhnya menyadari dan mengakui bahwa pengetahuan mereka tidak mungkin mencakup seluruh nash-nash wahyu.

Diantara contoh yang paling jelas dalam masalah ini adalah Imam Malik –rahimahullah– imam Darul Hijrah yang kapasitas keilmuannya dan kemuliannya telah terbukti. Ketika Abu Ja’far Al Manshur berusaha membawa seluruh manusia pada saat itu untuk menerapkan seperti yang tertuang dalam kitabnya –Al Muwatha-, Imam Malik justru tidak menerima gagasan itu dan beliau menolak permintaan Abu Ja’far Al-Manshur tersebut. Imam Malik memberitahukan kepadanya bahwa para sahabat Rasulullah  berpencar diseluruh belahan dunia, setiap orang mungkin memiliki pengetahuan yang tidak diketahui oleh yang lainnya.

Saat itu hadits belum dikumpulkan, pengumpulan hadits baru berhasil dilaksanakan masa keempat imam tersebut.

Para Shabat Rasulullah  menyebar keseluruh penjur dunia, mereka menyampaikan banyak hadits yang mungkin tidak diriwayatkan oelh orang lain dan tidak bisa diketahui dengan baik, kecuali setalh waktu yang lama.

Keluasan seorang ulama tidak berarti telah menguasai dan memhami nash-nash yang ada.

Sebagai contoh, Umar bin Khaththab , dahulu dia tidak mengerti ma’na kalalah hingga Rasulullah  wafat, pada hal Umar  banyak bertanya kepada Nabi  dan mendapatkan penjelasan darinya, tetapi dia belum bisa memahaminya.

Sebuah riwayat yang terpercaya menceritakan bahwa Umar bin Khaththab berkata, “Aku banyak sekali bertanya tentang kalalah kepada Rasulullah, hingga beliau menekan jarinya kedadaku dan bersabda, ‘Cukuplah bagimu (membaca) ayat ash-shaif diakhir surat An-Nisa’.

Ini adalah penjelasan yang paling gamblang, sebab yang dimaksudkan oleh Rasulullah  dengan shaif adalah firman Allah, “Mereka meminta fatwa kepadamu tentang kalalah…” (QS An-Nisa:176)

Ayat ini menjelaskan makna kalalah dengan penjelasan yang lengkap, sebab dalam ayat ini dinyatakan bahwa kalalah artinya adalah seseorang yang tidak memiliki anak dan orangtua.

Tidak punya anak ditunjukkan dengan dalil yang sesuai seperti yang tertera dalam firman Allah , “Jika seseorang meninggal dunia dan tidak mempunyai anak” (QS An-Nisa:176)

Adapun tidak memiliki orangtua ditunjukkan oelh dalil yang bersifat lazim -melakukan sesuatu- seperti tersebut dalam firman Allah , “…dan mempunyai saudara perempuan, Maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya…” (QS An-Nisa:176) sebab, diberikannya warisan kepada saudara perempuan, lazimnya menunjukkan tidak memiliki orangtua.

Dengan penjelasan Nabi  yang cukup memadai ini, ternyata Umar  masih belum bisa memahami makna kalalah, dan tentu saja ini masih menjadi masalah baginya.

Makna ini juga tidak diketahui oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq . Seperti tergambar dalam perkataannya, “Aku berpendapat dangan pendapatku sendiri dalam masalah ini, jika benar maka itu datangnya dari Allah, dan jika salah itu maka kesalahan itu dariku atau dari setan, kalalah adalah yang tidak memiliki anak dan tidak memiliki orang tua.

Pendapat Abu Bakar  disini sesuai dengan yang dimaksudkan didalam ayat Al Qur’an diatas.

Yang kita pahami dari dzahir perkataan Abu Bakar  diatas adalah bahwa dia tidak akan menggunakan pendapatnya sendiri jika memang sudah memahami makna ayatnya.

Contoh lain, Abu Bakar  tidak tahu bahwa Nabi  telah memberikan seperenam harta warisan untuk nenek, hingga diinformasikan oleh Al Mughirah bin Syu’bah  dan Muhammad bin Maslamah , sehingga Abu Bakar tidak lagi memakai pendapatnya -dan mengikuti apa yang ditunjukkan Nabi -.

Dua Sahabat yang mengabarkan kepada Abu Bakar  itu juga mengabarkan kepada Umar  tentang denda (diyat) bagi janin yang gugur dan mati dengan membebaskan budak lelaki atau perempuan.

Umar  juga tidak mengetahui bahwa seorang wanita mewarisi dari diyat suaminya, hingga Adh-dhahak bin Sufyan  memberitahukan kepadanya bahwa Nabi  pernah menulis surat kepadanya, agar ia memberikan waris kepada Istri Asyim Adh-Dhahabi dari diyat suaminya.

Umar  juga tidak mengetahui tentang permasalahan jizyah (upeti) yang harus diambil dari orang Majusi hingga diberitahukan oleh Abdurrahman bin Auf  bahwa Nabi  mengambil jizyah dari orang-orang Majusi didaerah Hajar.

Kemudia Ustman  juga tidak mengetahui kewajiban menetap ditempat tinggalnya bagi seorang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya hingga datang kabar dari Qurai’ah binti Malik, bahwa Nabi  mengharuskannya untuk tetap tinggal dirumah yang menjadi tempat tinggal suami, hingga selesai masa iddahnya. Dan banyak lagi contohl ainnya.

Dari beberapa riwayat diatas, bisa kita ketahui bahwa ternyata masih ada hal-hal yang luput dari para khulafaur-rasyidin, baik yang bersifat keputusan atau hadits-hadits Rasulullah  secara umum. Padahal kita tahu kedudukan mereka, kedekatan mereka kepada Rasulullah  dan semangat untuk mengambil ilmu dari beliau, sehingga orang-orang yang keutamaan dan kedudukannya dibwah khulafaur-Rasyidin mengambil ilmu dari mereka.

Walhasil, menyangka seorang imam telah menguasai seluruh nash-nash syar’i beserta makna-maknanya adalah prasangka yang jauh dari kebenaran dan tidak bisa dibenarkan. Sebab bisa jadi dia tidak mengetahui beberapa hadits atau riwayat lainnya yang dibawa oleh sebagian Shabat ayng adali Shalih.

Tentu saja hal yang demikian itu tidak mengapa, karena hal itu disebabkan oelh ketidak tahuannya, dan juga karena sang imam telah mempergunakan seluruh tenaganya untuk mecari riwayat-riwayat tersebut. Dan, karena itulah ia mendapatkan pahala ijtihad dan maaf atas kekeliruannya.

Bisa jadi seorang Imam mendapatkan hadits yang sanadnya dha’if sehingga ia meninggalkannya dan memndapatkan riwayat yang shahih dan mengambilnya.

Menyangka seorang Imam sudah mengetahui seluruh hukum-hukum syariat dan sudah benar-benar mengetahui seluruh makna-maknanya adalah persangkaan yang bathil.

Bahkan semua Imam secara tegas dan jelas telah mengemukakan kebatilan persangkaan yang demikian.

Yang menjadi panutan kita dalam masalah ini sebenarnya adalah apa yang dikatakan oleh para imam –rahimahullah– itu sendiri. Mereka mengakui terkadang keliru, sehingga mereka tidak mau diikuti pada seluruh perkara yang nyata bertentangan denga nAl Qur’an dan Sunnah.

Orang-orang yang mendahulukan pendapat manusia atau para imam terhadap kitab Allahd an Sunnah Rasul-Nya pada hakikatnya tidak mengikuti mereka. Dan klaim bahwa mereka mengikuti para imam hanyalah perkataan dusta belaka.

 

Masalah Kedua:

Orang-orang yang bertaqlid itu mengira bahwa mreka mempunyai udzur dan dimaafkan dari kesalahan seperti layaknya imam mereka.

Mereka mengira apabila imamnya melakukan kekeliruan pada sebagian hukum syariat kemudian mereka bertaqlid dalam kekeliruan itu, berarti mereka mendapatkan udzur dan dimaafkan dari kesalahan dan mendapatkan pahala sebagaimana imam yang mereka ikuti. Sebab menurut mereka dengan taqlid kepada imam -meskipun salah- akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala yang didapat imamnya.

Pendapat ini adalah keliru, sebab keduanya tidak lah sama -sebanding-, imam mereka menuangkan seluruh usahanya untuk mempelajari kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Ditambah -dengan semangat dan kerja keras- mereka -imam- mempelajari pendapat dan fatwa para sahabat. Dengan penuh semangat dan tidak ada pemikiran untuk meninggalkan hal-hal yang kecil, imam mereka menjalankan kewajibannya dan mempelajari wahyu dan mengamalkannya, serta taat kepada-Nya berdasarkan wahyu yang diturunkan. Orang yang seperti ini berhak mendapatkan udzur apabilaterjadi suatu kesalahan, dan dia tetap mendapatkan pahala dari ijtihadnya tersebut.

Adapun orang-orang yang bertaqlid, mereka tidak melakukan penelitian terhadap kitab Allah dan Sunnah Rasulnya, bahkan mereka sama sekali tidak mau mempelajarinya, walaupun jalan yang ditempuhnya teramat mudah. Mereka memposisikan pendapat-pendapat manusia yang kdang benar dan kadang salah seperti wahyu yang turun dari Allah .

Walhasil, orang yang berpaling dari kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, lalu bersikap remeh dalam mempelajari agama yang telah Allah turunkan yang dijelaskan oleh Rasulullah , kemudian dia justru mendahulukan pendapat manusia, tidak sama sekali mendapatkan apa yang didapatkan oelh imam-imam mereka. Sebab imam mereka tidak berpaling dari kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, tidak mendahuluinya dan tidak bersikap remeh dalam mempelajari perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya.

Dimana posisi mereka dari imam mereka ?

Ia berjalan ke timur sedang kau berjalan kebarat

Sangat jauh jarak antara timur dan barat.

Peringatan Bagi Orang yang Bertaqlid kepad Seorang Imam Madzhab

Ada hal penting yang harus diperhatikan oleh setiap orang yang memandang bahwa dirinya harus bertaqlid kepada salah seorang imam, dengan klaim sendiri bahwa dia tidak mampu melakukan istidlal, baik dari kitab Allah, Sunnah Rasul-Nya, perkataan Sahabat atau pendapat Tabi’in dan tidak pula imam-imam lainnya yang bukan imam madzhab yang dia anut. Hendaknya dia tahu kewajibannya, yaitu benar-benar mencermati dan memilah-milah antara perkataan imam yang sebenarnya dengan pernyataan-pernytaan yang hanya dinisbatkan kepadanya sepeninggalnya atas dasar kaidah-kaidah madzhab, dan apa yang ditambahkan oleh ulama muta’akhirin dengan alasan sebagai bentuk ihtisan. Penisbatan atau penambahan ini terjadi dari waktu kewaktu, padahal tidak mempunyai dasar dari kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.

Jika sang Imam mengetahui apa yang mereka tambahkan pada madzhabnya, tentunya dia akan berlepas diri dan mengingkari pelakunya. Sebab menisbatkan semua itu kepada imam mereka jelas-jelas sebagai bentuk kebathilan. Dan dakan bertambah salah jika hal yang dimaksud dinisbatkan kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan dalih bahwa hal itu disyariatkan melalui lisan Rasulullah . Hal-hal ini banyak dijumpai dalam ringkasan-rigkasan madzhabdan kitab-kitab ulama muta’akhirin.

1 Hadiyyah As-Sulthan ila Muslimi Bilad Al Yaban, Al Ma’shumi, Tahqiq Salim Al Hilali hal 76

2 Dinukil oleh Dahlawi dalam Hujjah Allah Al Balighah I/154-155.

3 Hadiyyah Al Sulthan h52-53.

4 Dihasankan oleh Al-Albani dengan sanad dha’if, tetapi ada penguatnya yg mauquf dari Hudzaifah dan penguat yang lainnya secara mursal. Dan dengan penguat itulah dihasankan oleh Al-Albani dalam takhrij Li Al Musthalahat Al- Ar Ba’ah 18-20

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: