Fatwa asy-Syaikh Ibrohim ar-Ruhaili tentang Jidal dengan ahli Bid’ah

Pertanyaan :

Fadhilatus Syaikh hafidzokumulloh, dengan mempertimbangkan ilmu agama kami yang sedikit, apa yang kami lakukan jika ada seorang ahli bid’ah mengajak kami untuk berdebat pada masalah agama di hadapan manusia? Atau apa syarat-syarat menerima ajakan ini? Jazakumulloh khoiron.

Jawab :

Na’am, dia tidak didebat! Jika dia mengajak debat di hadapan manusia dan seseorang (yang diajak debat) tidak mapan (dalam ilmu), maka tidak didebat! Bahkan jikapun seandainya kalian mapan dan ia mengajak kalian untuk debat dihadapan manusia, maka ia (ahli bid’ah tersebut) tidak didebat! Karena banyak dari ahli ilmu yang melarang berdebat dengan ahli bid’ah di depan umum. Karena jika ia didebat di depan umum, ia akan melempar syubhat-syubhat dan akan sampai ke dalam hati sebagian orang awam, dan engkau tidak mampu untuk mengeluarkannya dari diri-diri mereka. Maka ahli bid’ah tidak didebat di depan umum. Dan dikatakan (kepadanya) : “kami tidak ragu terhadap agama kami.”

Sebagian orang sekarang ini menyangka bahwa jika seorang mubtadi’ berkata : “debatlah aku!” lalu dijawab : “aku tidak akan mendebatmu di hadapan manusia” ini menunjukkan kekalahan. Tidak! Tidak sepatutnya kita mendengar penilaian orang awam, kita menilai agama kita sendiri, biarkanlah orang-orang mengatakan “fulan jahil”, “fulan tidak punya ilmu”, akan tetapi yang penting adalah kita menjadi orang-orang yang berpegang teguh pada kebenaran.

Inilah jalan kami, inilah jalannya salaf. Kami tidak mendebat ahli bid’ah di hadapan umum. Dan perdebatan-perdebatan sekarang ini yang terjadi di tempat-tempat terbuka, aku nasehatkan untuk tidak didengarkan, (karena) sesungguhnya hal tersebut merupakan fitnah. Dan mereka yang mendebat ahli bid’ah, dari orang-orang yang menisbatkan diri kepada Sunnah, mereka tidaklah mengetahui jalannya salaf. Dan jika tidak, jika mereka tahu maka mereka tidak akan mendebat orang-orang (ahli bid’ah) itu. Ahlus Sunnah tidaklah mendebat Rofidhoh dan tidak pula ahli bid’ah. Adapun orang dari kalangan mereka yang datang mencari kebenaran, maka ia dijelaskan kepadanya tidak di depan umum.

Oleh sebab itu Ibnu Baththoh menyebutkan dalam Muqoddimah kitabnya, bahwa ia berkata : “aku tidak mengetahui seorangpun yang didebat di depan umum lalu ia ruju’” Karena jiwa itu lemah, jika didebat di depan umum ia tidak akan ruju’, akan tetapi ia dinasehati dengan tersembunyi. Na’am.

[Diterjemahkan oleh Abu SHilah dari rekaman Dauroh Masyayikh Madinah di Kebun Teh Wonosari Lawang – Malang (17 – 22 Juli 2006), pada tanya-jawab dars Ushulus Sunnah. File : 1_usulussunnah.mp3 menit ke 106:48 s/d 108:40]

[Berikut ini kami bawakan tentang berdebat dengan ahli bid’ah. Fatwa ini beliau sampaikan pada dauroh asatidzah yang lalu di di Kebun Teh Wonosari Lawang – Malang (17 – 22 Juli 2006)]

sumber: http://tholib.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: