HADHANAH (Hak Asuh Anak)

Februari 27, 2008

Pengertian hadhanah

Kata hadhanah adalah bentuk mashdar dari kata hadhnu ash-shabiy, atau mengasuh atau memelihara anak. Mengasuh (hadhn) dalam pengertian ini tidak dimaksudkan dengan menggendongnya dibagian samping dan dada atau lengan.

Secara terminologis, hadhanah adalah menjaga anak yang belum bisa mengatur dan merawat dirinya sendiri, serta belum mampu menjaga dirinya dari hal-hal yang dapat membahayakan dirinya. Hukum hadhanah inihanya dilaksanakan ketika pasangan suami istri bercerai dan memiliki anak yang belum cukup umur untuk berpisah dari ibunya. Hal ini diseabkan karena sianak masih perlu penjagaan, pengasuhan, pendidikan, perawatan dan melakukan berbagai hal demi kemaslahatannya. Inilah yang dimaksu dengan perwalian (wilayah).

Hukum Hadhanah

Hadhanah (pengasuhan anak) hukumnya wajib, karena anak yang masih memerlukan pengasuhan ini akan mendapatkan bahaya jika tidak mendapatkan pengasuhan dan perawatan, sehingga anak harus dijaga agar tidak sampai membahayakan. Selain itu ia juga harus tetap diberi nafkah dan diselamatkan dari segala hal yang dapat merusaknya.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

LAMARAN DAN HUKUM-HUKUM YANG BERKAITAN DENGANNYA [Bag 3]

Februari 22, 2008

G. Apakah Batasan Lamaran Yang di Haramkan ?

Para ulama telah sepakat mengharamkan lamaran terhadap wanita yang sudah dilamar oleh seorang muslim. Hal ini berlaku jika pihak wanita jelas jelas telah setuju dengan lamaran tersebut, dan sipelamar tidak menginzinkannya dilamar oleh orang lain serta tidak meninggalkannya. Disamping itu, sipelamar kedua benar-benar mengetahui mengenai lamaran pelamar pertama dan telah mendapat persetujuan.

Kalangan Madzhab Hanbali tidak mensyaratkan adanya persetujuan terhadap lamaran tersebut secara terang-terangan. Mereka menyatakan bahwa persetujuan atas lamaran tersebut cukup dengan sindiran dan ini sudah cukup untuk melarang seorang melamar diatas lamaran orang lain. Pendapat senada juga dikemukakan oleh imam Syafi’i –rahimahumullah– dalam salah satu riwayat dari pendapatnya. Barangkali madzhab ini menyandarkan pendapat mereka ini pada hadits Nabi r,

Dan izin (Seorang perawan) adalah diamnya.”

Baca entri selengkapnya »


PENJELASAN TAWASSUL YANG BID’AH

Februari 21, 2008

Tawassul yang bid’ah yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan syariat. Tawassul yang bid’ah ini ada beberapa macam, diantaranya:

  1. Tawassul dengan kedudukan Nabi Muhammad r atau kedudukan orang selainnya.
    Perbuatan ini adalah bid’ah dan tidak boleh dilakukan. Adapun hadits yang berbunyi:
    Jika kalian hendak memohon kepada Allah, maka mohonlah kepada-Nya dengan kedudukanku disisi Allah adalah agung“.
    Hadits ini bathil dan tidak ada asal-usulnya dan tidak terdapat sama sekali dalam kitab-kitab hadits yang menjadi rujukan, tidak juga seorang ulamapun yang menyebutnya sebagai hadits (Majmu fatawa I/319 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah). Jika tidak ada satupun dalil yang shahih tentangnya, maka itu berarti tidak boleh, sebab setiap ibadah tidak dilakukan kecuali berdasarkan dalil yang shahih dan jelas.
  2. Tawassul dengan dzat mahluk.
    Tawassul ini –seperti bersumpah dengan mahluk– tidak dibolehka, sebab sumpah mahluk terhadap mahluk tidak dibolehkan, bahkan termsuk syirik, sebagaimaan disebutkan didalam hadits. Dan Allah tidak menjadikan permohonan kepada mahluk sebagai sebab dikabulkannya do’a dan Dia tidak mensyariatkan hal tersebut kepada para hamba-Nya
  3. Tawassul dengan mahluk.
    Tawassul inipun tidak dibolehkan, karena dua alasan:
    pertama, bahwa Allah tidak wajib memenuhi hak atas seseorang, tetapi justru sebaliknya, Allah-lah yang menganugerahi hak tersebut kepada mahluk-Nya, sebagaimana firman-Nya:
    Dan adalah hak Kami menolong orang-orang yang beriman(QS Ar-ruum: 47) Baca entri selengkapnya »

HUKUM WASILAH (TAWASSUL)

Februari 20, 2008

Al-Wasilah secara etimologi (bahasa) adalah segala hal yang dapat menyampaikan serta dapat mendekatkan kepada sesuatu. Bentuk jamaknya adalah wasaa-il.

Wasilah secara terminologi (syar’i) adalah yang diperintahkan didalam Al-Qur’an adalah segala hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah I yaitu berupa amal ketaatan yang disyariatkan. Allah I berfirman:

Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS Al-Maa-idah: 35)

Ibnu Abbas t berkata: “Makna Wasilah dalam ayat tersebut adalah peribadahan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah (al-Qurbah).” Demikian pula yang diriwayatkan dari Mujahid, Abu Wa’il, al-Hasan, ‘Abdullah bin Katsir, as-Suddi, Ibnu Zaid dan yang lainnya. Qatadah berkata tentang makna ayat tersebut:

“Mendekatlah kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengerjakan amalan yang diridhai-Nya” Tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari (IV/567), Cet. Daarul Kutub al-Ilmiyyah dan Tafsir Ibni KAtsir (II/6). Cet. Daarus Salaam.

Baca entri selengkapnya »