PENJELASAN TAWASSUL YANG BID’AH

Tawassul yang bid’ah yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan syariat. Tawassul yang bid’ah ini ada beberapa macam, diantaranya:

  1. Tawassul dengan kedudukan Nabi Muhammad r atau kedudukan orang selainnya.
    Perbuatan ini adalah bid’ah dan tidak boleh dilakukan. Adapun hadits yang berbunyi:
    Jika kalian hendak memohon kepada Allah, maka mohonlah kepada-Nya dengan kedudukanku disisi Allah adalah agung“.
    Hadits ini bathil dan tidak ada asal-usulnya dan tidak terdapat sama sekali dalam kitab-kitab hadits yang menjadi rujukan, tidak juga seorang ulamapun yang menyebutnya sebagai hadits (Majmu fatawa I/319 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah). Jika tidak ada satupun dalil yang shahih tentangnya, maka itu berarti tidak boleh, sebab setiap ibadah tidak dilakukan kecuali berdasarkan dalil yang shahih dan jelas.
  2. Tawassul dengan dzat mahluk.
    Tawassul ini –seperti bersumpah dengan mahluk– tidak dibolehka, sebab sumpah mahluk terhadap mahluk tidak dibolehkan, bahkan termsuk syirik, sebagaimaan disebutkan didalam hadits. Dan Allah tidak menjadikan permohonan kepada mahluk sebagai sebab dikabulkannya do’a dan Dia tidak mensyariatkan hal tersebut kepada para hamba-Nya
  3. Tawassul dengan mahluk.
    Tawassul inipun tidak dibolehkan, karena dua alasan:
    pertama, bahwa Allah tidak wajib memenuhi hak atas seseorang, tetapi justru sebaliknya, Allah-lah yang menganugerahi hak tersebut kepada mahluk-Nya, sebagaimana firman-Nya:
    Dan adalah hak Kami menolong orang-orang yang beriman(QS Ar-ruum: 47)
    Orang yang taat mendapat balasan (kebaikan) dari Allah karena anugerah dan nikmat, bukan karena balasan setara sebagaimana mahluk dengan mahluk yang lain.
    kedua, hak yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya, adalah hak khusus bagi diri hamba tersebut. jika ada yang bertawassul dengannya, padahal dia tidak mempunyai hak berarti dai bertawassul dengan perkara asing yang tidak ada kaitannya antara dirinya dengan hal tersebut dan itu tidak bermanfaat untuknya sama sekali.
    Adapun ahdits yang berbunyi:
    Aku mohon kepada-Mu dengan hak orang-orang yang memohon
    hadits ini dhaif sebagaimana diriwayatkan oleh imam Ahmad (III/21), lafazh ini milik Ahmad dan Ibnu Majah. Dalam sanad hadits ini terdapat Athiyyah al -Aufi dari Abu Sa’id al-khudri t. Athiyyah adalah perawi yang dhaif seperti yang dikatakan oleh imam Nawawi –rahimahumullah– dalam al-Adzkaar, imam Ibnu Taimiyyah –rahimahumullah– dalam al-Qaa’idatul Jaliilah dan imam Adz-dzhabi dalam al-Miizaan, bahkan dikatakan (dalam adh-Dhu’aafaa’,I/88): “Disepakati kedhaifannya!!” demikian pula oleh al-Hafizh al-Haitsami ditempat lainnya dari Majma’uz Zawaa-id (V/236). (Dinukil dari Tawassul ‘Anwaa-uhu wa Ahkamuhu hal 99 oleh Syaikh Albani, cet Daarus Salafiyah)

PENJELASAN TAWASSUL YANG SYIRIK

Tawassul yang syirik, yaitu menjadikan orang yang sudah meninggal sebagai perantara dalam ibadah seperti berdo’a kepada mereka, meminta hajat, atau memohon pertolongan sesuatu kepada mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar(QS Az-Zumar: 3)

Tawassul dengan meminta do’a kepada orang mati tidak dibolehkan bahkan perbuatan ini adalah syirik akbar. Karena mayit tidak mampu berdo’a seperti ketika ia masih hidup. Demikian juga meminta syafa’at kepada orang mati, karena Umar bin al-Khaththab t, Mu’awiyah bin Abi Sufyan t, dan para sahabat yang bersama mereka, juga para Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik ketika ditimpa kekeringan mereka memohon diturunkannya hujan, bertawassul dan meminta syafaat kepada orang yang masih hidup, seperti kepada al-Abbas bin Abdil Muthalib dan Yazid bin al-Aswad. Mereka tidak bertawassul, meminta syafa’at dan memohon diturunkannya hujan melalui Nabi Muhammad r, baik dikuburan beliau atau pun di kuburan orang lain, tetapi mereka mencari pengganti dengan orang yang masih hidup.

Umar bin al-Khaththab t berkata: “Ya Allah, dahulu kami bertawassul kepada-Mu denagn perantaraan Nabi-Mu, sehingga engkau menurunkan hujan kepada kami dan kini kami bertawassul kepada paman Nabi kami, karena itu turunkanlah hujan kepada kami. Ia (Anas) berkata:’Lalu Allah menurunkan hujan’ “. (HR Bukhari no 1010)

Mereka menjadikan al-Abbas t sebagai pengganti dalam bertawassul ketika mereka tidak lagi bertawassul kepada Nabi Muhammad r, sesuai dengan yang disyariatkan sebagaimana yang telah mereka lakukan sebelumnya. Padahal sangat mungkin bagi mereka untuk datang kekubur Nabi r dan bertawassul melalui beliau, jika memang hal itu dibolehkan. Dan mereka para sahabat y yang meninggalkan praktek-praktek tersebut merupakan bukti tidak diperbolehkannya bertawassul dengan orang mati, baik meminta do’a maupun syafa’at baik kepada orang mati.

2 Balasan ke PENJELASAN TAWASSUL YANG BID’AH

  1. […] bersambung -Penjelasan tentang Tawassul yang bid’ah- […]

  2. […] PENJELASAN TAWASSUL YANG BID’AH […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: