HAJI UNTUK ORANG LAIN

Maret 21, 2008
  1. Haji Untuk orang yang tidak mampu.
    Orang yang telah memiliki kemampuan untuk haji, kemudian dia tidak mampu melaksanakannya lantaran usia yang sudah lanjut atau menderita penyakit yang tidak dapat diharapkan kesembuhannya, yang biasa disebut ma’dhub, dia harus mewakilkan hajinya kepada orang lain dengan hartanya, sesuai hadits Ibnu Abbas dari Al-Fadhl bin Abbas,
    “Sesungguhnya seseorang perempuan dari Khats’am berkata, ‘Wahai Rasulullah, bapakku memiliki kewajiban haji pada saat dia telah usia lanjut dan tidak mampu lagi berada diatas kendaraan (hewan tunggangan), apakah aku dapat menghajikannya ?‘ Beliau r menjawab, ‘Ya‘.” (HR Bukhari dan Muslim)
    Dalam Riwayat lain beliau r bersabda,
    Bagaimana jika ayahmu memiliki tanggungan utang, apakah kamu akan melunasinya?” dia menjawab, “ Ya“. Beliau r bersabda, “Maka utang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi.” (HR Bukhari dan an-Nasa’i)
    Baca entri selengkapnya »

HEWAN YANG DIHARAMKAN BERDASARKAN SUNNAH NABI

Maret 19, 2008
  1. Daging keledai Jinak
    Jumhur Ulama berpendapat tentang haramnya memakan daging keledai jinak berdasarkan sabda Nabi r:
    a. Hadits Salamah bin Akwa -radiallahuanhu- “Kami bersama Rasulullah saw. berangkat menuju Khaibar. Kemudian Allah berkenan menaklukkannya bagi kemenangan pasukan muslimin itu. Pada sore hari di mana Khaibar telah ditaklukkan, kaum muslimin banyak yang menyalakan api hingga bertanyalah Rasulullah saw.: Apakah api-api ini, untuk apakah kamu sekalian menyalakannya? Mereka menjawab: Untuk memasak daging. Rasulullah saw. bertanya lagi: Daging apakah itu? Mereka menjawab: Daging keledai piaraan. Maka Rasulullah saw. bersabda: Tumpahkanlah masakan itu dan pecahkanlah periuknya! Seorang lelaki bertanya: Wahai Rasulullah, atau cukup kami tumpahkan isinya lalu kami cuci periuknya? Rasulullah saw. menjawab: Atau begitu juga boleh” (HR Muslim 3592)

    b. Hadis riwayat Abdullah bin Abu Aufa t: Dari Syaibani ia berkata: “Aku bertanya kepada Abdullah bin Abu Aufa tentang daging keledai piaraan” lalu ia menjawab: Musibah kelaparan menimpa kami bersama Rasulullah r pada hari perang Khaibar padahal kami telah berhasil menangkap beberapa ekor keledai kaum mereka yang keluar dari Madinah lalu kami pun segera menyembelihnya. Ketika periuk-periuk kami yang berisi daging binatang tersebut sedang mendidih, tiba-tiba berserulah seorang penyampai seruan Rasulullah r: “Tumpahkanlah periuk-periuk tersebut dan janganlah memakan daging keledai itu sedikit pun!” Apakah maksud pengharaman beliau ini? Lalu kami pun saling membicarakannya di antara kami sehingga kami berkesimpulan beliau mengharamkannya untuk selamanya dan pasti dan beliau juga mengharamkan itu karena tidak bisa dibagi seperlima. (HR Muslim 3585)
    Baca entri selengkapnya »


MAKANAN YANG DIHARAMKAN DI DALAM AL-QUR’AN

Maret 18, 2008

Allah I berfirman:

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala…” (QS Al-Maa’idah:3)

  1. Bangkai dengan segala jenisnya
    Bangkai adalah semua binatang yang mati secara tidak wajar, tanpa dibunuh atau disembelih secara syar’i:
    – Binatang yang tercekik hingga mati
    – Binatang yang dipukul dengan kayu atau sejenisnya hingga mati.
    – Binatang yang jatuh dari ketinggian hingga mati.
    – Binatang yang ditanduk binatang yang lain lalu mati karena tanduk tersebut.
    – Binatang yang mati karena terkaman binatang buas dan pemangsanya.
    Jika salah satu dari binatang-binatang ini ditemukan masih dalam kondisi hidup kemudia disembelih, maka hukumnya halal, berdasarkan firman Allah I,”…Kecuali yang sempat kamu menyembelihnya…” (QS Al-Maa’idah:3)
    Baca entri selengkapnya »

SYARAT MENDAPATKAN HAK ASUH ANAK (HADHANAH)

Maret 12, 2008

Kalangan ahli fiqih menyebutkan sejumlah syarat untuk mendapatkan hak asuh anak yang harus dipenuhi. Jika syarat ini tidak terpenuhi, maka hak asuh anak hilang, syarat-syarat tersebut adalah:

Syarat pertama dan kedua, berakal dan telah baligh, sebab kelompok ini masih memerlukan orang yang dapat menjadi wali atau bahkan mengasuh mereka. Jika mereka masih membutuhkan wali dan membutuhkan pengasuha, maka merekpun tidak pantas untuk menjadi pengasuh untuk orang lain.

Syarat kedua, Agama yang mengasuh haruslah sama dengan agama anak yang diasuh, sehingga orang kafir tidak berhak mengasuh anak Muslim. Hal ini didasarkan pada dua hal:

  1. Orang yang mengasuh pasti sangat ingin anak yang diasuhnya sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya. dan ini adalah bahaya terbesar yang dialami sianak. Dan telah dijelaskan dalam sabda Rasulullah r:
    Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah (suci), maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan dia sebagai Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Hadits ini menunjukkan bahwa agama anak tidak aman jika diasuh oleh orang kafir.
    Baca entri selengkapnya »


WAKTU YANG TERLARANG UNTUK SHALAT

Maret 6, 2008
  1. Setelah shalat fajar hingga ukuran matahari setinggi tombak.
  2. Setelah Shalat Ashar hingga matahari tenggelam.
    Tidak boleh dilaksanakannya shalat sunnah setelah 2 waktu tersebut berdasarkan hadits-hadits berikut:

    • Hadits Ibnu Abbas, ia berkata “Saya diajari oleh banyak orang yang kejujuran dan keagamaannya tidak diragukan lagi -termasuk didalamnya adalah Umar- Sesunguhnya Nabi melarang melaksanakan shalat  setelah Subuh hingga terbit matahari dan setelah Shalat Ashar hingga matahari tenggelam“. (HR Bukhari 581 dan Muslim 826)
    • Hadits Abu Sa’id, ia berkata bahwa Rasulullah r bersabda: “Tidak ada pelaksanaan shalat setelah shalat subuh hngga matahari meninggi, dan tidak ada shalat setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam.” (HR Bukhari 586 dan Muslim 727)
  3. Ketika tengah hari.
    Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Uqbah bin Amir, ia berkata: “Tiga waktu yang dilarang oleh RAsulullah untuk melaksanakan shalat atau mengubur mayit kami; Ketika matahari terbit dan bersinar terang hingga meninggi, ketika tengah hari hingga matahari tergelincir, ketika matahari condong kebarat hingga tengelam“. (HR Muslim 831)

Baca entri selengkapnya »


HUKUM JUAL BELI SISTEM KREDIT

Maret 5, 2008

oleh: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani 

Fadhilatus Syaikh Muhammad Nashhiruddin Al-Albani ditanya : Bagaimana hukum syara (agama) tentang jual beli dengan sistem kredit dalam pembayarannya .?

jawaban

Jual beli dengan sistem kredit (bittaqsith) adalah bid’ah amaliyah yang tidak dikenal kaum muslimin pada abad-abad (qurun) dahulu. Hal itu adalah amalan yang dipraktekkan orang-orang kafir sebelum menduduki negara kaum muslimin, kemudian menjajahnya dan mengatur negara jajahannya dengan undang-undang mereka yang kafir.
Setelah medapatkan keuntungan yang besar dari negara jajahannya, mereka pergi meninggalkan pengaruh-pengaruh buruk dalam negara itu. Sedangkan kaum muslimin yang hidup pada zaman sekarang berada dalam tata kehidupan (muamalat) peninggalan orang-orang kafir tersebut. Yang lebih penting sebagaimana yang diucapkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Saya tidak meninggalkan suatu yang dapat mendekatkan kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, melainkan telah saya perintah kalian dengannya. Dan tidaklah saya meninggalkan suatu yang dapat menjauhkan kalian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendekatkan kalian ke neraka, melainkan telah saya peringatkan kalian daripadanya”. [Lihat As-Shahihah : 1803]

Baca entri selengkapnya »


Sistem Murabahah

Maret 4, 2008

Murabahah seolah menggenapi “khazanah” praktik-praktik ribawi di sekitar kita. Sistem ini awalnya mengadopsi praktik jual beli yang sudah berlaku umum. Namun dengan memosisikan bank sebagai lembaga pembiayaan, praktik ini dan yang sejenis –seperti leasing- pun tak lepas dari jerat riba.

Di antara sistem akad jual beli yang cukup banyak ditemukan pada bank-bank adalah apa yang mereka sebut dengan istilah murabahah. Sistem transaksi ini sering dijumpai di bank-bank yang mengatasnamakan dirinya “Bank Islam.” Banyak kaum muslimin yang terlena dengan embel-embel Syariah atau nama-nama berbahasa Arab pada produk-roduknya, sehingga jarang di antara mereka yang memperhatikan atau mempertanyakan dengan seksama sistem transaksi yang terjadi.
Maka menerangkan masalah seperti ini dipandang lebih wajib daripada system-sistem riba yang berlaku di bank-bank konvensional, sebab amat sedikit kaum muslimin yang mengetahuinya.
Istilah tersebut di atas sesungguhnya telah ada dan diulas oleh para ahli fiqih sejak dahulu. Namun kini istilah tersebut dipakai untuk sebuah hakekat permasalahan yang tidak sama dengan apa yang dahulu mereka ulas. Di kalangan ahli fiqih dikenal sebuah transaksi dengan istilah “jual beli amanah.” Disebut demikian karena seorang penjual wajib jujur dalam menyebutkan harga sebuah barang kepada seorang pembeli.
Transaksi ini ada 3 jenis:

Baca entri selengkapnya »