BID’AH (Sual-Jawab)

Oleh: abu yazid

1. Pertanyaan: Bid’ah itu apa ?

Jawab:

Secara Bahasa adalah sesuatu yang baru yang tidak ada pada zaman Nabi .

Secara Istilah adalah sesuatu yang baru, yang tidak ada contoh sebelumnya didalam agama ini, yang menyerupai agama/syariat, yang dibuat oleh orang atas nama agama sehingga ia terlihat szeperti bagian dari agama ini, dengan maksud untuk taqarrub/mendekatkan diri kepada Allah untuk mendapatkan ganjaran pahala/kebaikan.

2. Pertanyaan: Apakah setiap bid’ah adalah kesesatan ?

Jawab:

Ya… Jika dalam hal urusan agama/peribadatan bukan dalam hal urusan dunia. Nabi  diutus ke dunia untuk memperbaiki tauhid, aqidah dan tata cara peribadatan manusia kepada Allah . Dan Allah ingin dibadahi sesuai dengan apa yang diinginkan oleh-Nya yang diajarkan oleh Nabi yang mulia  kepada para sahabat , bukan berdasarkan selera diri sendiri/kelompok.

Agama ini telah sempurna yang tidak perlu ada penambahan maupun pengurangan sedikitpun, sebagaimana dengan firman Allah

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu… (QS Al-Maidah:3)

Ayat tersebut turun pada haji wada’ beberapa hari sebelum Rasulullah  wafat, jadi tidak boleh ada modifikasi (penambahan/pengurangan) syariat yang telah ditetapkan. Karena setiap penambahan/pengurangan syariat haruslah dengan wahyu Allah yang datang melalui Nabi-Nya.

Dan sabda Nabi  yang mulia yang menyatakan bahwa Setiap Bid’ah adalah sesat yang bermakna umum tidak ada pengecualian.

Hadits Jabir bin Abdullah , bahwa Rasulullah  pernah berkhutbah dihadapan khalayak ramai, beliau memuji Allah dan mengagungkan-Nya sesuai keberadaan-Nya, kemudian beliau  bersabda:

Amma ba’du, seungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad dan seburuk-buruk perkara adalah yang dibuat-buat dan setiap bid’ah adalah sesat. (HR Muslim)

Dan didalam hadits Irbadh bin syariyah dijelaskan,:

‘Rasulullah  menasehati kami dengan nasehat yang menggetarkan hati dan membuat air mata kami berlinang. Lalu kami berkata: “Wahai Rasulullah ! sepertinya ini adalah nasehat perpisahan, maka nasehatilah kami ya Rasulullah.” Beliaupun lalu bersabda, “aku wasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah lalu tunduk dan taat kepada pemimpin walaupun yang yang memimpin kalian dalah hamba sahaya, karena sesungguhnya orang yang hidup diantara kalian akan mendapatkan perselisihan yang banyak. Oleh karena itu berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang telah mendapat petunjuk setelahku. Gengamlah erat-erat (sunnah tersebut) dengan gigi geraham kalian dan berhati-hatilah dengan perkara yang baru (bid’ah), karena setiap yang baru (bid’ah) adalah sesat.” (HR Abu Dawud 4607, Tirmidzi 2676 dll, lihat al-Luma fil-rudd ‘ala Muhassiny al-Bida’)

sabda Rasulullah 

Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak” [Muttafaqun alayhi]

Dan sabda beliau. 

Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka ia tertolak” [HR Bukhari]

Dengan demikian, maka tidak ada jalan bagi ahli bid’ah untuk menjadikan bid’ah mereka sebagai bid’ah hasanah, dan perkataan

Setiap bid’ah adalah kesesatan

Merupakan perkataan yang langsung keluar dari lisan Nabi kita yang mulia , dan bukan perkataan sahabat ataupun ulama.

3. Pertanyaan: Bukankah ada bid’ah hasanah ?

Jawab:

Nabi  telah mengatakan bahwa Setiap bid’ah adalah sesat, tidak ada pengecualian. Jika ada bid’ah hasanah maka saya ingin bertanya tentang Qawaid/Kaidah-kaidah dan Dhawabith/Batasannya. Apakah setiap perbuatan bid’ah adalah hasanah dan apakah setiap orang bisa membuat bid’ah ?

Karena setiap bid’ah adalah sesuatu yang disandarkan kepada agama Islam ini, dengan maksud untuk mendekatkan diri kepada Allah atau ingin mendapatkan ganjaran dari Allah . Sehingga bid’ah itu terlihat sebagai bagian dari agama ini dan orang menganggapnya sebagai bagian dari risalah yang dibawa oleh Nabi yang mulia .

Mari kita artikan kedalam Bahasa Indonesia

Bid’ah artinya Sesat

Hasanah artinya baik/kebaikan

Bid’ah hasanah artinya Kesesatan yang baik, gimana donk ada kesesatan yang baik, bukankah setiap kesesatan adalah kejahatan !!! Mungkin anak kecilpun akan bertanya: “seperti apa kesesatan yang baik

4. Pertanyaan: Bagaimana dengan perkataan Umar ibnul Khaththab  (sebaik-baik bid’ah adalah ini) pada shalat tarawih yang dijadikan landasan/dalil oleh mereka untuk membuat/melakukan dan melegalkan bid’ah ?

Jawab:

Saya akan bawakan perkataan seorang ulama, yakni Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin –rahimahullah– dalam hal ini

Pertama: Tidak boleh seorangpun menentang perkataan Nabi  walaupun dengan perkataan Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali  atau dengan perkataan selain mereka. Karena Allah  berfirman:

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS An-nur:63)

Fitnah disini ahli tafsir mengatakan: kufur, syirik, murtad, nifaq dan bid’ah.

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan fitnah ? fitnah yaitu syirik. Boleh jadi apabila seseorang menolak sebagian sabda Nabi akan terjadi pada hatinya suatu kesesatan, akhirnya ia akan binasa.

Ibnu Abbas  berkata: “Hampir saja kalian dilempar batu dari atas langit, kukatakan Rasulullah bersabda tapi kalian mengatakan Abu Bakar dan Umar berkata

Kedua: Kita yakin kalau Umar  termasuk orang yang sangat menghormati firman Allah  dan sabda Rasul-Nya.

Tetapi bid’ah yang dikatakan oleh Umar harus ditempatkan sebagai bid’ah yang tidak termasuk didalam sabda Nabi  setiap bid’ah adalah kesesatan. Kenapa ? karena shalat tarawih sendiri sudah ada pada zaman Rasulullah , sebagaimana yang dinyatakan oleh Aisyah –radiallahu anha-:

“bahwa Nabi  pernah melakukan qiyamullail (shalat malam) bersama sahabat tiga malam berturut-turut, kemudian beliau menghentikannya pada malam ke-empat dan bersabda, ‘Sesunggunya aku takut kalau shalat tersebut diwajibkan atas kamu, sedangkan kamu tidak mampu untuk melaksanakannya‘” (Muttafaqun Alayhi)

Jadi shalat malam (tarawih) pada bulan Ramadhan ada contohnya dari Nabi . Disebut bid’ah oleh Umar dengan pertimbangan bahwa Nabi  menghentikannya pada malam ke-empat, ada sahabat Nabi  yang melakukannya sendiri-sendiri, ada yang berjamaah dengan beberapa orang saja dan ada yang berjamaah dengan orang banyak. Akhirnya Umar  sebagai khalifah pada saat itu dengan pendapatnya yang benar mengumpulkan mereka dalam satu imam.

5. Pertanyaan: Apakah motor, mobil, pesawat, microphone itu bid’ah ?

Jawab:

Tidak. Sebab motor, mobil, microphone dlsb adalah sarana dan merupakan urusan dunia dan Nabi  diutus untuk bukan untuk mengurusi keduniaan tetapi diutus untuk urusan agama.

Seperti men-tauhid-kan Allah, beribadah kepada-Nya dengan cara yang diinginkan oleh-Nya tidak dengan cara yang kita inginkan.

Suatu kaedah yang perlu diketahui bahwa untuk perkara non ibadah (‘adat), hukum asalnya adalah tidak terlarang (mubah) sampai terdapat larangan. Hal inilah yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (sebagaimana dalam Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/86) dan ulama lainnya.

Asy Syatibi juga mengatakan, “Perkara non ibadah (‘adat) yang murni tidak ada unsur ibadah, maka dia bukanlah bid’ah. Namun jika  perkara non ibadah tersebut dijadikan ibadah atau diposisikan sebagai ibadah, maka dia bisa termasuk dalam bid’ah.” (Al I’tishom, 1/348)

Para pembaca dapat memperhatikan bahwa tatkala para sahabat ingin melakukan penyerbukan silang pada kurma -yang merupakan perkara duniawi-, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا كَانَ شَىْءٌ مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكُمْ فَأَنْتُمْ أَعْلَمُ بِهِ فَإِذَا كَانَ مِنْ أَمْر دِينِكُمْ فَإِلَىَّ

“Apabila itu adalah perkara dunia kalian, kalian tentu lebih mengetahuinya. Namun, apabila itu adalah perkara agama kalian, kembalikanlah padaku.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengomentari bahwa sanad hadits ini hasan)

6. Pertanyaan: Bagaimana dengan dalil yang menyatakan “Barangsiapa yang membuat contoh/sunnah yang baik dalam Islam maka iaamendapat pahala perbuatnnya dan pahala orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat” ?

Jawab:

Orang yang menyampaikan perkataan itu adalah orang yang menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat, yakni Rasulullah . Dan perkataan beliau  tidak mungkin bertentangan, sebagaimana firman Allah  tidak ada yang bertentangan. Kalau ada yang menganggapnya seperti itu, maka hendaklah ia meneliti kembali karena anggapan tersebut terjadi mungkin karena dirinya tidak mampu atau kurang teliti. Karena tidak ada sama sekali pertentangan dalam firman Allah atau sabda Rasulullah .

Mari kita perhatikan teks dalam bahasa Arabnya:

مَنْ سَنَّ فِيْ الإِ سْلَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَا مَةِ

Coba perhatikan kembali hadits tersebut,

Kata مَنْ سَنَّ فِيْ الإِ سْلَمِ (barangsiapa yang berbuat sunnah didalam Islam), sedangkan bid’ah bukan berasal dari Islam.

Dan hadits tersebut mengatakan dengan سُنَّةً حَسَنَةً sunnah yang baik (bukan bid’ah yang baik) !!!.

Jadi kata سَنَّ tidak berarti tidak membuat sesuatu yang bid’ah, melainkan menghidupkan kembali sunnah yang telah lama ditinggalkan, karena arti sunnah berbeda dengan arti bid’ah.

Jadi barangsiapa yang menghidupkan sunnah Nabi yang pernah ada kemudian ditinggalkan maka ia akan mendapatkan pahala dan mendapatkan pahala yang mengikutinya.

7. Pertanyaan: kami melakukan itu dengan niat yang baik dan ikhlas, tidak bertujuan melawan syari’at, tidak mempunyai pikiran untuk mengoreksi agama, dan tidak terbersit dalam hati untuk melakukan bid’ah ! Bahkan sebagian mereka berdalil dengan hadits Nabi .

Sesungguhnya segala amal tergantung pada niat” [Muttafaq Alaihi]

Jawab:

Syarat diterimanya ibadah apabila memenuhi dua syarat, ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti contoh Rasulullah) tidak hanya didasarkan atas niat baik dan ikhlas semata.

Berikut ini saya bawakan perkataan syaikh Ali bin Hasan al-Halabi -hafidzahullah- :

Kewajiban seorang muslim yang ingin mengetahui kebenaran yang sampai kepadanya serta hendak mengamalkannya adalah tidak boleh menggunakan sebagian dalil hadits dengan meninggalkan sebagian yang lain. Tetapi yang wajib dia lakukan adalah memperhatiakn semua dalil secara umum hingga hukumnya lebih dekat kepada kebenaran dan jauh dari kesalahan. Demikianlah yang harus dilakukan bila dia termasuk orang yang mempunyai keahlian dalam menyimpulkan dalil.

Tetapi bila dia orang awam atau pandai dalam keilmuan kontemporer yang bukan ilmu-ilmu syari’at, maka dia tidak boleh coba-coba memasuki kepadanya, seperti kata pepatah : “Ini bukan sarangmu maka berjalanlah kamu!“.

Adapun yang benar dalam masalah yang penting ini, bahwa sabda Nabi . “Sesunnguhnya segala amal tergantung pada niat” adalah sebagai penjelasan tentang salah satu dari dua pilar dasar setiap amal, pilar pertama yaitu ikhlas dalam beramal dan jujur dalam batinnya sehingga yang selain Allah tidak meretas ke dalamnya.

Adapun pilar kedua adalah, bahwa setiap amal harus sesuai Sunnah Nabi , seperti dijelaskan dalam hadits, “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada keterangannya dari kami maka dia tertolak“. Dan demikian itulah kebenaran yang dituntut setiap orang untuk merealisasikan dalam setiap pekerjaan dan ucapannya.

Atas dasar ini, maka kedua hadits yang agung tersebut adalah sebagai pedoman agama, baik yang pokok maupun cabang, juga yang lahir dan yang batin. Dimana hadits : “Sesungguhnya segala amal tergantung pada niat” sebagai timbangan amal yang batin. Sedangkan hadits “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada keterangannya dari kami maka dia tertolak” sebagai tolak ukur lahiriah setiap amal.

Dengan demikian, maka kedua hadits tersebut memberikan pengertian, bahwa setiap amal yang benar adalah bila dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang keduanya merupakan syarat setiap ucapan dan amal yang lahir maupun yang batin.

Oleh karena itu, siapa yang ikhlas dalam setiap amalnya karena Allah dan sesuai sunnah Rasulullah , maka amalnya diterima, dan siapa yang tidak memenuhi dua hal tersebut atau salah satunya maka amalnya tertolak. [Bahjah Qulub Al-Abrar : 10 Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di]

Dan demikian itulah yang dinyatakan oleh Fudhail bin Iyadh ketika menafsirkan firman Allah : “Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya” [QS Al-Mulk : 2]

Beliau berkata, ‘Maksudnya, dia ikhlas dan benar dalam melakukannya. Sebab amal yang dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar maka tidak akan diterima. Dan jika dia benar, tetapi tidak ikhlas maka amalnya juga tidak diterima. Adapun amal yang ikhlas adalah amal yang dilakukan karena Allah, sedang amal yang benar adalah bila dia sesuai dengan Sunnah Rasulullah” [Hilyatu Auliya : VIII/95, Abu Nu’aim. Dan lihat Tafsir Al-Baghawi V/419, Jami’ul Al-Ulum wal Hikam : 10 dan Madarij As-Salikin I/83]

Al-Alamah Ibnul Qayyim berkata [Mawarid Al-Aman Al-Muntaqa min Ighatshah Al-Lahfan : 35], “Sebagian ulama salaf berkata, “Tidaklah suatu pekerjaan meskipun kecil melainkan dibentangkan kepadanya dua catatan. Mengapa dan bagaimana ? Yakni, mengapa kamu melakukan dan bagaimana kamu melakukan ?

Pertanyaan pertama tentang alasan dan dorongan melakukan pekerjaan. Apakah karena ada interes tertentu dan tujuan dari berbagai tujuan dunia seperti ingin dipuji manusia atau takut kecaman mereka, atau ingin mendapatkan sesuatu yang dicintai secara cepat, atau menghindarkan sesuatu yang tidak disukai dengan cepat ? Ataukah yang mendorong melakukan pekerjaan itu karena untuk pengabdian kepada Allah dan mencari kecintaan-Nya serta untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ?

Artinya, pertanyaan pertama adalah, apakah kamu mengerjakan amal karena Allah, ataukah karena kepentingan diri sendiri dan hawa nafsu?

Adapun pertanyaan kedua tentang mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pengabdian itu. Artinya, apakah amal yang dikerjakan sesuai syari’at Allah yang disampaikan Rasul-Nya? Ataukah pekerjaan itu tidak disyari’atkan Allah dan tidak diridhai-Nya?

Pertanyaan pertama berkaitan dengan ikhlas ketika beramal, sedangkan yang kedua tentang mengikuti Sunnah. Sebab Allah tidak akan menerima amal kecuali memenuhi kedua syarat tersebut. Maka agar selamat dari pertanyaan pertama adalah dengan memurnikan keikhlasan. Sedang agar selamat dari pertanyaan kedua adalah dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengerjakan setiap amal. Jadi amal yang diterima adalah bila hatinya selamat dari keinginan yang bertentangan dengan ikhlas dan juga selamat dari hawa nafsu yang kontradiksi dengan mengikuti Sunnah”.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya (I/231) berkata, “Sesungguhnya amal yang di terima harus memenuhi dua syarat. Pertama, ikhlas karena Allah. Kedua, benar dan sesuai syari’at. Jika dilakukan dengna ikhlas, tetapi tidak benar, maka tidak akan diterima“.

Pernyataan itu dikuatkan dan dijelaskan oleh Ibnu Ajlan, ia berkata, “Amal tidak dikatakan baik kecuali dengan tiga kriteria : takwa kepada Allah, niat baik dan tepat (sesuai sunnah)” [Jami Al-Ulum wal Hikam : 10]

Kesimpulannya, bahwa sabda Nabi , “Sesungguhnya segala amal tergantung pada niat” itu maksudnya, bahwa segala amal dapat berhasil tergantung pada niatnya. Ini adalah perintah untuk ikhlas dan mendatangkan niat dalam segala amal yang akan dilakukan oleh seseorang dengan sengaja, itulah yang menjadi sebab adanya amal dan pelaksanaannya. [Lihat Fathul bari : I/13 dan Umdah Al-Qari : I/25]

Atas dasar ini, maka seseorang tidak dibenarkan sama sekali menggunakan hadits tersebut sebagai dalil pembenaran amal yang batil dan bid’ah karena semata-mata niat baik orang yang melakukannya!

8. Pertanyaan: Jika itu bid’ah kenapa Kyai, Habib dan Ustadz di Indonesia melakukannya ?

Jawab:

Pertama: Perbuatan seseorang tidak boleh dijadikan dalil/hujjah didalam agama, apalagi perbuatan tersebut bertentangan dengan syariat. Lihat kembali jawaban dari pertanyaan ke-4 bagian pertama.

Kedua: Kyai, Habib ataupun Ustadz adalah manusia biasa yang tidak bisa merubah ketetapan syariat yang telah Allah tetapkan.

Mereka (kyai, habib dan ustadz) bisa salah dan bisa benar. Jika perbuatan mereka bersesuaian dengan Kitabullah dan Sunnah diatas pemahaman salafush-shalih maka boleh kita ambil. Tetapi jika bertentangan maka wajib kita tolak dan tinggalkan.

Allah  berfirman:

Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertaqwa. [QS Al-An’aam: 153]

Ayat ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu Mas’ud  bahwa jalan itu hanya satu, sedangkan jalan selainnya adalah jalan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dan jalannya ahlul bid’ah.

Hal ini sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh Imam Mujahid ketika menafsirkan ayat ini. Jalan yang satu ini adalah jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah r dan para Shahabatnya t. Jalan ini adalah ash-Shirath al-Mustaqiim yang wajib atas setiap muslim menempuhnya dan jalan inilah yang akan mengantarkan kepada Allah U.

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa jalan yang mengantarkan seseorang kepada Allah hanya SATU… Tidak ada seorang pun yang dapat sampai kepada Allah, kecuali melalui jalan yang satu ini. [Tafsiir al-Qayyim, oleh Syaikhul Islam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah th. 1398 H]

9. Pertanyaan: Apa saja contoh bid’ah ?

Jawab:

Contoh-contoh bid’ah dari sekian banyak bid’ah yang ada disekitar kita:

  1. Maulid Nabi (saran: sebaiknya pelajari dan kenali asal-muasal maulid Nabi, siapa pencetus pertama maulid Nabi)
  2. Acara selamatan Kematian, Kehamilan 3 bulan, 7 bulan dan selamatan/syukuran lainnya (umumnya terjadi pada negara yang masyarakat dahulunya adalah beragama Hindu)
  3. Yasinan (asal hukum baca Surat Yasin boleh, tapi jika ditentukan waktunya –misalkan tiap hari/malam tertentu-, bilangan – misalkan baca sekian kali– dan tempatnya –misalnya baca dikuburan, ditempat kematian dll– maka itu adalah bid’ah, jika itu baik maka Nabi dan para Sahabatnya telah mendahului kita mengamalkannya, bukankah Istri yang paling dicintai Nabi juga meninggal, jika itu baik kenapa Nabi tidak membacakan Yasin atau selamatan kematian/tahlilan ?).
  4. Shalawat Badar, Nariyah, Fatih, Qubra dll (shalawat ini mengandung kesyirikan jika diartikan kedalam bahasa Indonesia dan shalawat tersebut tidak ada asalnya dari Nabi )
  5. Peringatan malam Nisfu Sya’ban
  6. Dzikir secara berjama’ah dipimpin oleh satu orang atau lebih.
  7. dll

Demikianlah seputar tanya jawab yang umumnya terjadi antara ahlussunnah dan ahlul bid’ah.

Ahlussunnah adalah orang yang berpegang teguh diatas sunnah Nabi  atau dengan kata lain orang yang kehidupannya berada/mengikuti petunjuk Nabi .

Ahlul Bid’ah adalah orang yang kehidupannya dipenuhi dengan amalan bid’ah, amalan yang tidak ada asalnya dari Nabi .

Sebagai penutup semoga kita diberikan hidayah oleh Allah didalam menerima kebenaran yang memang pahit ini dan meninggalkan segala bentuk amalan bid’ah, dan mereka yang terjebak didalam bid’ah yang kemungkinan memiliki tujuan baik dan menghendaki kebaikan, apabila anda memang menghendaki kebaikan, maka -demi Allah- tidak ada jalan yang lebih baik dari pada jalan generasi terbaik umat ini yaitu zaman Nabi  dan para sahabatnya, tabi’in dan tabiut tabi’in.

Hendaklah kaum muslimin yang menganggap baik sebagian bid’ah, baik yang berkenaan dengan pribadi atau cara mengagungkan Rasulullah , hendaklah mereka takut kepada Allah dan menghindari hal-hal semacam itu. Beramallah dengan didasari ikhlas dan mengikuti contoh Nabi , bukan amal yang syirik dan bid’ah, menurut apa yang diridhai oleh Allah, bukan apa yang disenangi syaitan.

Semoga Allah menerangkan hati kita dengan iman dan ilmu, menjadikan ilmu agama yang kita miliki menjadi berkah dan bukan bencana.

Semoga Allah membimbing kita kepada jalan para hamba-Nya yang beriman dan golongan-Nya yang beruntung.

Shalawat dan salam semoga tetap dilimpahkan Allah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.

Wallahu ‘alam

Abu Yazid Fatwa Rohmana

13 Rabiul Awwal 1430

2 Balasan ke BID’AH (Sual-Jawab)

  1. sunherra mengatakan:

    اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
    Salam kenal Ustadz ijin kutip artikelnya

    salam dari Abu dzikra hanif
    silahkan kunjungi juga blog http://cybersunnah.co.cc/

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: