Ikhtilaf(perselisihan) dan iftiraq (perpecahan)

Bismillahirrahmanirrahim

Na’am, Ikhtilaf dan iftiraq adalah dua hal yang berbeda,banyak diantara saudara kita salah dalam memahami,

  • Tidak setiap ikhtilaf akan menghasilkan perpecahan
  • Ikhtilaf terjadi dalam hal yang bersifat ijtihadiyah (seperti bacaan Alfatihah makmum ketika shalat siir yang tidak dikeraskan, posisi tangan ketika saat i’tidal dll), sedangkan iftiraq terjadi dalam hal yang pokok, seperti mengatakan Al Quran adalah mahluk, menolak takdir Allah Azza wa Jalla, meniadakan sebagian sifat-sifat Allah Azza wa Jalla (sifat tangan Allah, sifat istiwa’ Allah dll)

Dan Allah subhanallahu wa ta’ala pun melarang kita dari perpecahan, sebagaimana yang tercantum dibeberapa ayat dan hadits, seperti :

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara. (QS. Ali Imran : 103)

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka” (QS. Al Imran : 105)

Rasulullah -shallallahu alayhi wasallam- pun bersabda, “Orang-orang Yahudi telah berpecah belah dalam tujuh puluh satu kelompok dan Nashora berpecah belah menjadi tujuh puluh dua kelompok, serta umat ini (Islam-red) akan pecah menjadi tujuh puluh tiga kelompok”. (HR. Tirmidzi)

Perpecahan merupakan sunnatullah yang pasti terjadi dan tidak bisa dihindari. Namun perpecahan adalah suatu hal yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya, sehingga perlu dicari langkah untuk mencegahnya.

Iftiraq dapat disebabkan karena beberapa hal, diantaranya :

      • Kurangnya ilmu agama atau salah dalam memahami ayat, hadits ataupun perkataan ulama.

      Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus yang ia cabut dari hamba-Nya, namun mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama hingga bila tidak tersisa seorang alimpun maka manusia mengangkat para orang yang bodoh lalu mereka ditanya dan berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan” (HR. Bukhari)

    •  
            • Tipu daya / makar orang-orang kafir yang ingin merusak Islam dari dalam dengan berpura-pura masuk Islam
            • Berlebih-lebihan (ghuluw) dalam beragama.

          Rasulullah –shallallahu ’alaihi wa sallam- pun melarangnya dalam sabda beliau, “Wahai sekalian manusia, jauhilah sikap berlebihan dalam agama, karena orang sebelum kalian binasa karena sikap berlebihan dalam agama” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

          • Fanatik/Taqlid buta terhadap ulama atau manusia yang dianggap sebagai ulama dalam kelompoknya.

Solusi agar terhindar dari perpecahan adalah dengan bertakwa kepada Allah dan kembali kepada Al Qur’an dan sunnah Rasul dengan pemahaman yang benar, yang sesuai dengan pemahaman para sahabat dan ulama terdahulu, maka ia akan mengambil pendapat yang paling sesuai dengan Al Qur’an dan Hadits Rasulullah. Jika ada pendapat ulama yang salah dan menyelisihi keduanya (Al Quran dan Hadits), ia tidak akan fanatik/taqlid buta dan mengembalikannya kepada Al Qur’an dan Hadits Nabi.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul (Nya), serta ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah ( Al Qur’an ) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar- benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An Nisaa : 59)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: