BATASAN TASYABBUH [MENYERUPAI] ORANG-ORANG KAFIR

September 6, 2007

Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa standard menyerupai orang-orang kafir ?

Jawaban
Standard tasyabbuh (penyerupaan) adalah pelakunya melakukan sesuatu yang merupakan ciri khas yang diserupainya. Menyerupai orang-orang kafir artinya, seorang Muslim melakukan sesuatu yang merupakan ciri khas mereka. Adapun jika hal tersebut telah berlaku umum di kalangan kaum muslimin dan hal itu tidak membedakannya dari orang-orang kafir, maka yang demikian ini bukan tasyabbuh (tidak tergolong menyerupai) sehingga hukumnya tidak haram karena penyerupaan tersebut, kecuali jika hal itu haram bila dilihat dari sisi lain. Inilah yang kami maksud dengan relatifitas maksud kalimat. Penulis buku Al-Fath (pada juz 10 hal. 272) menyebutkan :
Baca entri selengkapnya »

Iklan

Fatwa asy-Syaikh Ibrohim ar-Ruhaili tentang Jidal dengan ahli Bid’ah

September 5, 2007

Pertanyaan :

Fadhilatus Syaikh hafidzokumulloh, dengan mempertimbangkan ilmu agama kami yang sedikit, apa yang kami lakukan jika ada seorang ahli bid’ah mengajak kami untuk berdebat pada masalah agama di hadapan manusia? Atau apa syarat-syarat menerima ajakan ini? Jazakumulloh khoiron.

Jawab :
Baca entri selengkapnya »


Asal dari Ibadah adalah Terlarang dan Asal dari Adat adalah Mubah

September 5, 2007

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد‌

Barangsiapa membuat perkara baru dalam urusan agama kami apa-apa yang tidak berasal darinya, maka perkara tersebut tertolak.”
Hadits ini menunjukkan tidak diadakannya sesuatupun dari perkara ibadah kecuali dengan dalil, adapun yang selain ibadah maka tidak dilarang kecuali dengan dalil (yang melarang, pent). Baca entri selengkapnya »


Maslahat Mursalah Bukanlah Bid’ah

September 5, 2007

Oleh : asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad al-Badr –hafidzohulloh

Maslahat mursalah adalah suatu maslahat yang syari’at tidak menjelaskannya dan tidak pula membatalkannya, ia merupakan wasilah untuk mencapai suatu perkara yang disyari’atkan, seperti pengumpulan al-Qur’an pada zaman Abu Bakar dan Utsman rodhiyallohu anhuma, pencatatan pasukan perang dan penulisan orang-orang dari pasukan yang berhak mendapat bagian, maka hal ini tidak terdapat dalam syari’at satu nash pun yang menetapkan atau melarangnya. Adapun pengumpulan al-Qur’an, maka ini merupakan jalan untuk menghapalnya dan agar tidak hilang sesuatupun darinya. Yang demikian merupakan penerapan firman Alloh azza wa jalla: Baca entri selengkapnya »


Borok-Borok Sufi : Mengenal Beberapa Keyakinan Sufi, Ilmu Laduni

September 3, 2007

Oleh Salim Al-Hilali dan Ziyad Ad-Dabij

Tasawuf merupakan gerakan berpola pikir filsafat klasik yang mengekor kepada para filosof dan ahli syair Romawi, India dan Persia. Namun, dalam hal ini, kita akan membatasi kajian masalah sufi dengan berkedok Islam. Kedok Islam ini dikenakan sebagai upaya menutupi hakikatnya. Maka barangsiapa yang meneliti dan mengamati gerak-geriknya, niscaya akan berkesimpulan, bahwa sufi bukan Islam. Baik menyangkut aqidah, prilaku dan pendidikan.

MENGENAL BEBERAPA KEYAKINAN SUFI
Sesungguhnya para penguasa sufi telah berusaha memelihara keyakinan-keyakinan tasawuf, yakni, dengan merancukan dan menghapuskan ayat-ayat Al-Kitab Al-Karim. Membolak-balik, serta merubah pemahaman Sunnah An-Nabawiyah yang telah suci. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menakdirkan untuk agama ini, orang-orang yang memperbaharui agama-Nya.
Baca entri selengkapnya »


Borok-Borok Sufi : Syari’at Dan Hakikat, Al-Hulul Wa Al-Ittihad, Wihdah Al-Wujud

September 3, 2007

Oleh Salim Al-Hilali dan Ziyad Ad-Dabij

SYARI’AT DAN HAKIKAT
Para pemimpin sufi mengatakan, bahwa setiap ayat mempunyai unsur lahir dan bathin. Atau, Islam itu terdiri dari syari’at dan hakikat. Syari’at, bila dibandingkan dengan hakikat, laksana buih. Hakikat merupakan tingkatan paling sempurna, puncak dan sangat tinggi dalam tangga peribadahan Islam.

Cara agar mampu untuk mencapainya adalah dengan memiliki ilmu laduni, kasyaf Rabbani serta Faidh Ar-Rahmani. Dalihnya, hadits yang diriwayatkan imam Bukhari dari Abu Hurairah :

“Artinya : Aku menghafalkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dua kantung ilmu. Adapun salah satunya telah aku sebarkan. Sedangkan lainnya, bila ku sebarkan akan dipotong tenggorokan ini”. [Hadits Riwayat Bukhari dalam kitab Fitan]
Baca entri selengkapnya »


Borok-Borok Sufi : Cahaya Nur Muhammadi, Pendidikan Sufi

September 3, 2007

Oleh Salim Al-Hilali dan Ziyad Ad-Dabij

CAHAYA (NUR) MUHAMMADI
Termasuk dalam madzhab wihdah al-wujud, ialah adanya keyakinan dikalangan orang-orang sufi tentang masalah Aqthab, Autad, Abdal, Aghwats, An-Najba (yakni beberapa istilah status, jabatan atau peringkat dikalangan sufi), bahwa ruh Allah berdiam pada diri mereka sehingga merekalah yang mengatur apa yang ada.

Mereka menduduki kedudukan Allah dalam mencipta dan mengatur. Yang demikianpun termasuk keyakinan Syi’ah terhadap para imamnya. Seperti dikatakan Khumeini dalam kitabnya Al-Hukumah Al-Islamiyah hal.52 : “Sesungguhnya imam mempunyai kedudukan yang terpuji dan derajat yang tinggi, dan kekuasaan untuk mencipta serta tunduk di bawah kekuasaannya seluruh unsur dari semesta ini. Dan termasuk madzhab kami yang sangat penting pula, bahwa para imam kita mempunyai kedudukan yang tidak dapat diraih oleh para malaikat terdekatpun, dan tidak pula oleh nabi yang didekatkan. Dan berdasarkan riwayat-riwayat yang ada pada kita, dengan hadits-haditsnya, bahwa Rasul teragung Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para imam, mereka semua, sebelum adanya alam semesta ini berupa cahaya yang dijadikan Allah mengelilingi Ars-Nya. [1]
Baca entri selengkapnya »